SUKMA –Ketua FLP Sumut- memberi tantangan untuk menuliskan puisi dengan tema embun dan ranting. Hm, sangat menggelitik. Bukan lantaran pulsa cash yang dijanjikannya. Tetapi, tantangan itu, bagiku lebih berbunyi sebagai, “Hei, bisa nulis puisi kayak gini, nggak?” Maka, kuterima tantangan itu.
Senja turun. Belum lagi sempat menjemput puisiku, lelah sudah menyerangku lebih dulu. Kolaps. Pulang kerja, langsung tidur. Ah, payah!
Sampai ketika jam di ponselku menunjukkan pukul 03.00 dini hari, aku terjaga. Tak enak rupanya hati mengenang ada janji yang belum ditunaikan. Kuraih pensil dan selembar kertas yang kuambil sekenanya. Langsung saja kutulis apa yang terlintas dibenakku. Selanjutnya, sebuah sms mengantarkan puisi itu sampai ke pangkuan Sukma. Ini puisinya:
Kepada Mawar
Jangan lagi kau nantikan embun
Pun ia tak pernah setia
Lupakah pada reranting
penyangga tubuh yang tak pernah mengeluh ?
Meski,
Satu persatu kelopakmu meluruh...
Tahu apa komentarnya? “Udah paten lah kalau dikampung-kampung!” Phfffhfffhf…
Namun sejujurnya aku sangat senang. Sebab ia yang berani memberikan komentarnya secara jujur. Bukan tanpa alas an. Tapi diulasnya puisi itu berdasar pada teori sastra yang dipahaminya. Mau tahu apa komentarnya. Silahkan, lihat saja di:
http://surau-aksara-madani.blogspot.com
