Rabu, 22 April 2009

Tantangan Sang Ketua


SUKMA –Ketua FLP Sumut- memberi tantangan untuk menuliskan puisi dengan tema embun dan ranting. Hm, sangat menggelitik. Bukan lantaran pulsa cash yang dijanjikannya. Tetapi, tantangan itu, bagiku lebih berbunyi sebagai, “Hei, bisa nulis puisi kayak gini, nggak?” Maka, kuterima tantangan itu.


Senja turun. Belum lagi sempat menjemput puisiku, lelah sudah menyerangku lebih dulu. Kolaps. Pulang kerja, langsung tidur. Ah, payah!


Sampai ketika jam di ponselku menunjukkan pukul 03.00 dini hari, aku terjaga. Tak enak rupanya hati mengenang ada janji yang belum ditunaikan. Kuraih pensil dan selembar kertas yang kuambil sekenanya. Langsung saja kutulis apa yang terlintas dibenakku. Selanjutnya, sebuah sms mengantarkan puisi itu sampai ke pangkuan Sukma. Ini puisinya:

Kepada Mawar


Jangan lagi kau nantikan embun
Pun ia tak pernah setia

Lupakah pada reranting
penyangga tubuh yang tak pernah mengeluh ?

Meski,
Satu persatu kelopakmu meluruh...



Tahu apa komentarnya? “Udah paten lah kalau dikampung-kampung!” Phfffhfffhf…


Namun sejujurnya aku sangat senang. Sebab ia yang berani memberikan komentarnya secara jujur. Bukan tanpa alas an. Tapi diulasnya puisi itu berdasar pada teori sastra yang dipahaminya. Mau tahu apa komentarnya. Silahkan, lihat saja di:

http://surau-aksara-madani.blogspot.com

Senin, 13 April 2009

Kepada Ksatria

Sesekali, jatuh juga
kau dalam senyap
meski sepenuh-penuh yakin
masih lagi bisa melangkah tegap

Hei, apa kau tak merasa?
tubuhmu itu belum juga sempurna
ini, sepotong igamu masih kubawa...

Selasa, 07 April 2009

Kangen Nenek

Sejenak, ingatanku mengarah pada sosok itu. Yah, nenekku. Kau tahu kawan, aku salut pada nenekku. Dia, perempuan tua itu, sering kudapati memijit-mijit tengkuknya yang renta. Atau satu waktu, kutemukan ia sedang mengerik-ngerik tubuhnya dengan logam seratusan, sekedar mengusir angin yang kini sudah sangat mudah menyelinap masuk ke kulit tuanya.


Nenekku adalah satu dari begitu banyak wanita tua di negeri ini yang tak pernah sempat menikmati sekolah. Maka, jangan kau sodorkan bon belanjaan padanya. Dia takkan mengerti. Dia tak bisa membedakan mana huruf, mana angka. Garis tegas huruf A, liukan cantik huruf S, atau sederhananya huruf I, tetap bermakna sama di matanya. Gelap....

Dan nenekku, akan menatapmu dengan tatapan penuh. Menanti-nanti angka berapa yang akan kau sebutkan untuk seluruh barang belanjaannya. Lalu sekejap saja, beberapa detik setelah kau sebutkan tagihanmu, dia akan langsung melunasinya. Tepat. Tak kurang, tak pun berlebih. Jangan sangsi, kalau soal uang, dia lebih ahli dariku. Pengalaman berjualan lontong selama 30 tahun telah menjadikannya ahli dalam urusan hitung-menghitung uang. Jadi, jangan macam-macam sama nenek-nenek. Apalagi nenekku.