Selasa, 07 April 2009

Kangen Nenek

Sejenak, ingatanku mengarah pada sosok itu. Yah, nenekku. Kau tahu kawan, aku salut pada nenekku. Dia, perempuan tua itu, sering kudapati memijit-mijit tengkuknya yang renta. Atau satu waktu, kutemukan ia sedang mengerik-ngerik tubuhnya dengan logam seratusan, sekedar mengusir angin yang kini sudah sangat mudah menyelinap masuk ke kulit tuanya.


Nenekku adalah satu dari begitu banyak wanita tua di negeri ini yang tak pernah sempat menikmati sekolah. Maka, jangan kau sodorkan bon belanjaan padanya. Dia takkan mengerti. Dia tak bisa membedakan mana huruf, mana angka. Garis tegas huruf A, liukan cantik huruf S, atau sederhananya huruf I, tetap bermakna sama di matanya. Gelap....

Dan nenekku, akan menatapmu dengan tatapan penuh. Menanti-nanti angka berapa yang akan kau sebutkan untuk seluruh barang belanjaannya. Lalu sekejap saja, beberapa detik setelah kau sebutkan tagihanmu, dia akan langsung melunasinya. Tepat. Tak kurang, tak pun berlebih. Jangan sangsi, kalau soal uang, dia lebih ahli dariku. Pengalaman berjualan lontong selama 30 tahun telah menjadikannya ahli dalam urusan hitung-menghitung uang. Jadi, jangan macam-macam sama nenek-nenek. Apalagi nenekku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar