Senin, 01 Juni 2009
Bulan di Ransel
sepotong bulan dalam ranselku
biar saja malam sepi
dan kau mencari-cari
tapi, sampai dia lelap
di gendonganku
tak juga kulihat kau tengadah
dan menyadari,
dia tak lagi tergantung di sana
Sepasang Sepatu
yang dulu biasa disemir debu
kini masih tergolek disitu
baru kemarin,
mereka pulang dalam ritme duka
dan selanjutnya,
belum ada lagi yang mengajaknya
melangkah,
mungkin sampai lusa
empat kali lusa
tujuh kali lusa
atau sampai waktu yang, entah!
Rabu, 22 April 2009
Tantangan Sang Ketua
SUKMA –Ketua FLP Sumut- memberi tantangan untuk menuliskan puisi dengan tema embun dan ranting. Hm, sangat menggelitik. Bukan lantaran pulsa cash yang dijanjikannya. Tetapi, tantangan itu, bagiku lebih berbunyi sebagai, “Hei, bisa nulis puisi kayak gini, nggak?” Maka, kuterima tantangan itu.
Senja turun. Belum lagi sempat menjemput puisiku, lelah sudah menyerangku lebih dulu. Kolaps. Pulang kerja, langsung tidur. Ah, payah!
Sampai ketika jam di ponselku menunjukkan pukul 03.00 dini hari, aku terjaga. Tak enak rupanya hati mengenang ada janji yang belum ditunaikan. Kuraih pensil dan selembar kertas yang kuambil sekenanya. Langsung saja kutulis apa yang terlintas dibenakku. Selanjutnya, sebuah sms mengantarkan puisi itu sampai ke pangkuan Sukma. Ini puisinya:
Kepada Mawar
Jangan lagi kau nantikan embun
Pun ia tak pernah setia
Lupakah pada reranting
penyangga tubuh yang tak pernah mengeluh ?
Meski,
Satu persatu kelopakmu meluruh...
Tahu apa komentarnya? “Udah paten lah kalau dikampung-kampung!” Phfffhfffhf…
Namun sejujurnya aku sangat senang. Sebab ia yang berani memberikan komentarnya secara jujur. Bukan tanpa alas an. Tapi diulasnya puisi itu berdasar pada teori sastra yang dipahaminya. Mau tahu apa komentarnya. Silahkan, lihat saja di:
http://surau-aksara-madani.blogspot.com
Senin, 13 April 2009
Kepada Ksatria
kau dalam senyap
meski sepenuh-penuh yakin
masih lagi bisa melangkah tegap
Hei, apa kau tak merasa?
tubuhmu itu belum juga sempurna
ini, sepotong igamu masih kubawa...
Selasa, 07 April 2009
Kangen Nenek
Nenekku adalah satu dari begitu banyak wanita tua di negeri ini yang tak pernah sempat menikmati sekolah. Maka, jangan kau sodorkan bon belanjaan padanya. Dia takkan mengerti. Dia tak bisa membedakan mana huruf, mana angka. Garis tegas huruf A, liukan cantik huruf S, atau sederhananya huruf I, tetap bermakna sama di matanya. Gelap....
Dan nenekku, akan menatapmu dengan tatapan penuh. Menanti-nanti angka berapa yang akan kau sebutkan untuk seluruh barang belanjaannya. Lalu sekejap saja, beberapa detik setelah kau sebutkan tagihanmu, dia akan langsung melunasinya. Tepat. Tak kurang, tak pun berlebih. Jangan sangsi, kalau soal uang, dia lebih ahli dariku. Pengalaman berjualan lontong selama 30 tahun telah menjadikannya ahli dalam urusan hitung-menghitung uang. Jadi, jangan macam-macam sama nenek-nenek. Apalagi nenekku.
Selasa, 31 Maret 2009
Tapak-Tapak Cinta
Di jalan cinta para pejuang
Tapak pertama VISI
Agar aku tak lagi tertidur lelap,
tapi bangkit terjaga
Agar aku tak lagi tertunduk sayu,
Tapi tegak terpancang
Agar CINTAKU tak lagi terpejam sendu,
tapi tajam terpancar
Agar aku tak menyipit silau,
tapi menatap lekat
Agar aku tak memandang serampang,
tapi menelisik jeli
Di jalan cinta para pejuang
Tapak kedua GAIRAH
Agar aku tak lagi lemah
Agar aku tak lagi goyah
Agar CINTAKU jagi gagah
Agar aku tak cepat lelah
Agar aku tak menyerah
Di jalan cinta para pejuang
Tapak ketiga NURANI
Agar aku jujur pada diri
Agar kudengar suara hati
Agar CINTAKU jadi suci
Agar kupandang dunia dari ufuk tinggi
Agar aku dibimbing Ilahi
Di jalan cinta para pejuang
Tapak keempat DISIPLIN
Agar aku penuh taqwa dalam banjir cinta
dan badai
Agar aku bukan hanya penikmat rasa,
Tapi juga penjaga agama
Agar CINTAKU bukan hanya kesenangan diri
Tapi juga ridha Ilahi,
Agar aku tak hanya dicintai orang terkasih
Tapi juga Yang Maha Pengasih
